Ada Apa di Lapangan Desa Bahara? Ratusan Pramuka Penggalang Panjalu Ciamis Turun Gunung Adu Ketangkasan!
"Lomba Tingkat II bukan sekadar kompetisi, melainkan ajang strategis untuk menguji keterampilan, kedisiplinan, dan memupuk...
"Lomba Tingkat II bukan sekadar kompetisi, melainkan ajang strategis untuk menguji keterampilan, kedisiplinan, dan memupuk...
"Dalam perjalanan menuju Tasikmalaya, Wapres RI Ke-13 K.H. Ma'ruf Amin singgah di Sindangkasih Ciamis untuk...
Ciamis, 6 September 2026 — Polsek Pamarican kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa...
Ponpes Miftahul Huda Ustmaniyah, terletak di Dusun Cikole, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, mengadakan acara besar Senin malam (21 September 2026). Acara bernama Tabligh Akbar dalam rangka Haol (peringatan kematian) Alm KH. Abdurahman Syadzily Ke-25, Milad Ponpes Ke-92, dan Reuni Akbar KAMUS (Keluarga Besar Alumni) Ke-21 ini menghadirkan sekitar 1.000 peserta. Tapi apa yang menarik dari acara ini bukan sekadar ritual tahunan — melainkan pesan keras dari KH Jamaluddin dari Pandeglang tentang krisis pendidikan anak di era digital. Acara dimulai jam 19.00 dan berakhir jam 00.30, dihadiri Kapolsek Cihaurbeuti Iptu Agus Predi Muharom, Camat Cihaurbeuti, Danramil, pimpinan ponpes KH. Mumu Muchtar, alumni, tamu undangan, dan masyarakat. Yang menarik perhatian: peserta termasuk “simpatisan FPI” (Front Pembela Islam) — organisasi yang pernah kontroversial. PESAN UTAMA: ULAMA DAN MEDIA SOSIAL YANG MERACUNI Dalam tausyiah (pidato keagamaan), KH Jamaluddin menyampaikan pesan yang sangat relevan untuk era sekarang. Pertama, beliau menekankan peran guru dan ulama dalam membentuk akhlak. “Guru yang mengenalkan kita kepada Allah adalah guru yang paling berharga,” kata beliau. Pesan ini sederhana namun dalam — di era ketika banyak anak kehilangan figur otoritas yang positif. Tapi pesan yang paling kritis adalah tentang ponsel dan media sosial. KH Jamaluddin langsung mengidentifikasi masalah: “Tidak sedikit di media sosial sekarang yang mempengaruhi untuk menghasud (menjelek-jelekkan) para Ulama. Ajarkan anak-anak kita mengaji.” Ini adalah warning yang sangat konkret. Beliau tidak hanya mengatakan “media sosial buruk” — tetapi menunjukkan mekanisme spesifik: media sosial digunakan untuk menghasut dan menjelek-jelekkan ulama. Strategi ini umum di platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp, di mana konten bisa tersebar dengan cepat tanpa verifikasi. ULAMA SIAP MENDUKUNG PEMERINTAH, TAPI DENGAN SYARAT Bagian kedua dari tausyiah juga penting dari sudut pandang hubungan ulama-pemerintah: “Ulama selalu siap sejalan dengan Pemerintah dan siap mendukung program pemerintah yang bermanfaat untuk rakyat. Akan tetapi, jika tidak bermanfaat untuk rakyat, kita harus siap Amar Ma’rif Nahu Munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran).” Ini adalah statement yang balanced namun tegas. Beliau tidak menolak otoritas pemerintah, tapi juga tidak memberikan blank check. Ada syarat: program harus bermanfaat untuk rakyat. Jika tidak, ulama punya hak dan kewajiban untuk bicara. Dalam konteks Ciamis, statement ini bisa menjadi landmark tentang hubungan antara institusi keagamaan dan pemerintah lokal. PONPES MIFTAHUL HUDA: WARISAN 92 TAHUN PENDIDIKAN ISLAM Ponpes Miftahul Huda sudah berdiri selama 92 tahun (sejak 1934 jika dihitung dari 2026). Ini bukan ponpes asal-asalan. Alm KH. Abdurahman Syadzily yang dirayakan Haol-nya adalah founder dan pimpinan legendaris yang membangun tradisi pesantren di Cihaurbeuti. Reuni Alumni Ke-21 menunjukkan bahwa alumni tersebar luas dan tetap terhubung dengan alma mater mereka. Ribuan alumni berarti ribuan orang yang dipengaruhi oleh pendidikan di ponpes ini — jadi dampak institusi ini terhadap masyarakat Cihaurbeuti dan sekitarnya sangat besar. KEAMANAN TERJAGA, KONDISI KONDUSIF Laporan menyebutkan keamanan berjalan aman lancar dan kondusif. Ini penting, mengingat kehadiran “simpatisan FPI” (Front Pembela Islam) yang dicatat dalam laporan resmi Polres. Polres Ciamis memastikan kegiatan keagamaan dapat berlangsung tanpa insiden, yang menunjukkan penanganan keamanan yang professional. PERTANYAAN YANG MENGGANTUNG ...
CIAMIS, FAKTAHANGAT.COM – Pertandingan PSGC Ciamis kontra Sumsel United FC pada pekan kedua Liga 2...
Jumat (18 September 2026), kebakaran meluas di Dusun Cimendong, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu. Kejadian dimulai...
Jumat (18 September 2026), Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar memimpin kegiatan panen jagung Kwartal III...
Kamis (17 September 2026), Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya mengumumkan berita besar di Rakerkab PPDI Kabupaten Ciamis: tahun ini, 40 desa se-Kabupaten Ciamis akan melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak dengan sistem digitalisasi. Ini bukan sekadar rutinitas administrasi. Ini adalah transformasi fundamental dalam cara pemerintah desa mengelola proses demokratis paling grassroots di Indonesia. Tapi pertanyaannya: apakah perangkat desa sudah siap? Apakah infrastruktur digital sudah memadai? Apakah ada risiko yang tidak diantisipasi? TRANSFORMASI DIGITAL PILKADES: PELUANG DAN RISIKO Sistem digital Pilkades berarti semua aspek mulai dari pendaftaran calon, verifikasi pemilih, hingga pemungutan dan penghitungan suara dilakukan melalui platform digital. Ini adalah langkah maju untuk transparansi dan efisiensi. Tapi ada beberapa hal mengganggu yang perlu diteliti. Pertama, infrastruktur digital. Dari 40 desa, berapa banyak yang memiliki koneksi internet yang stabil? Listrik 24 jam? Server backup? Ciamis adalah kabupaten pegunungan dengan beberapa area masih terpencil. Sistem digital yang bagus di pusat kota tidak otomatis berfungsi di dusun-dusun pinggir. Risiko: jika sistem down saat pemilihan, apa contingency plan? Kedua, literasi digital perangkat desa. Pilkades dijalankan oleh kepala desa, sekretaris desa, dan perangkat lainnya yang rata-rata usia 40 tahun ke atas. Berapa yang pernah pakai platform digital kompleks? Apakah ada training yang memadai? Apakah ada technical support real-time saat pemilihan berlangsung? Ketiga, keamanan data dan kepercayaan publik. Sistem digital memang efisien, tapi publik Ciamis yang masih terbiasa dengan voting tradisional (kertas suara, kotak suara fisik) apakah sudah percaya pada voting digital? Apakah ada transparansi yang cukup sehingga pemilih yakin suara mereka tercatat dengan benar? Apakah ada jaminan anti-fraud atau manipulasi? PESAN BUPATI: INTEGRITAS DAN SINERGI Dalam sambutannya di Rakerkab, Bupati menekankan tiga poin penting. Pertama, integritas sebagai pelayan masyarakat dengan penuh kedisiplinan, utamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi dan golongan. Pesan ini sangat relevan mengingat Pilkades adalah momen kritis dimana kepentingan lokal dan personal sering bertabrakan. Kedua, sinergi dan harmonisasi. Bupati berharap tidak ada ketegangan antar stakeholder. Tapi pertanyaan: apakah instruksi top-down ini cukup menekan praktik-praktik “grease money” (uang amplop) atau suap yang umum terjadi dalam Pilkades tradisional? Sistem digital bisa mengurangi ruang suap, tapi tidak otomatis mengeliminasinya jika ada political will dari aktor lokal. Ketiga, perhatian ekstra pada Pilkades tahun ini karena digitalisasi. Bupati mengakui ini adalah pilot besar-besaran. Tapi apakah ada monitoring real-time? Apakah ada task force untuk handle issues yang mungkin muncul? KEMARAU 4 BULAN: KRISIS YANG TERLUPAKAN Ada satu poin yang sering dilupakan dari sambutan Bupati: Ciamis sedang mengalami kemarau selama 4 bulan. Bupati mengingatkan masyarakat bijak dalam penggunaan air dan hati-hati dengan pembakaran sampah atau puntung rokok. Ini adalah sinyal bahwa Ciamis sedang krisis infrastruktur air dan pangan. Jika kemarau berlanjut, apa dampaknya pada Pilkades? Apakah masyarakat yang mengkhawatirkan sumber air masih punya tenaga untuk voting? Apakah Pilkades bisa ditunda sampai kondisi lebih baik? Atau apakah sistem digital justru solusi karena mempercepat proses voting (tidak perlu waktu lama mengantri)? ...
Rabu, 16 September 2026 jam 03.00 pagi. Waktu yang berbahaya untuk dijaga, tapi waktu yang...
Rabu (16 September 2026), seleksi calon perangkat desa untuk jabatan Kepala Wilayah Dusun Cijamban dilaksanakan...