Ribuan Alumni dan Santri Hadir di Tabligh Akbar Ponpes Miftahul Huda: Peringatan Tajam tentang Pengaruh Negatif Ponsel dan Media Sosial pada Anak
Ponpes Miftahul Huda Ustmaniyah, terletak di Dusun Cikole, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, mengadakan acara besar Senin malam (21 September 2026). Acara bernama Tabligh Akbar dalam rangka Haol (peringatan kematian) Alm KH. Abdurahman Syadzily Ke-25, Milad Ponpes Ke-92, dan Reuni Akbar KAMUS (Keluarga Besar Alumni) Ke-21 ini menghadirkan sekitar 1.000 peserta. Tapi apa yang menarik dari acara ini bukan sekadar ritual tahunan — melainkan pesan keras dari KH Jamaluddin dari Pandeglang tentang krisis pendidikan anak di era digital. Acara dimulai jam 19.00 dan berakhir jam 00.30, dihadiri Kapolsek Cihaurbeuti Iptu Agus Predi Muharom, Camat Cihaurbeuti, Danramil, pimpinan ponpes KH. Mumu Muchtar, alumni, tamu undangan, dan masyarakat. Yang menarik perhatian: peserta termasuk “simpatisan FPI” (Front Pembela Islam) — organisasi yang pernah kontroversial. PESAN UTAMA: ULAMA DAN MEDIA SOSIAL YANG MERACUNI Dalam tausyiah (pidato keagamaan), KH Jamaluddin menyampaikan pesan yang sangat relevan untuk era sekarang. Pertama, beliau menekankan peran guru dan ulama dalam membentuk akhlak. “Guru yang mengenalkan kita kepada Allah adalah guru yang paling berharga,” kata beliau. Pesan ini sederhana namun dalam — di era ketika banyak anak kehilangan figur otoritas yang positif. Tapi pesan yang paling kritis adalah tentang ponsel dan media sosial. KH Jamaluddin langsung mengidentifikasi masalah: “Tidak sedikit di media sosial sekarang yang mempengaruhi untuk menghasud (menjelek-jelekkan) para Ulama. Ajarkan anak-anak kita mengaji.” Ini adalah warning yang sangat konkret. Beliau tidak hanya mengatakan “media sosial buruk” — tetapi menunjukkan mekanisme spesifik: media sosial digunakan untuk menghasut dan menjelek-jelekkan ulama. Strategi ini umum di platform seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp, di mana konten bisa tersebar dengan cepat tanpa verifikasi. ULAMA SIAP MENDUKUNG PEMERINTAH, TAPI DENGAN SYARAT Bagian kedua dari tausyiah juga penting dari sudut pandang hubungan ulama-pemerintah: “Ulama selalu siap sejalan dengan Pemerintah dan siap mendukung program pemerintah yang bermanfaat untuk rakyat. Akan tetapi, jika tidak bermanfaat untuk rakyat, kita harus siap Amar Ma’rif Nahu Munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran).” Ini adalah statement yang balanced namun tegas. Beliau tidak menolak otoritas pemerintah, tapi juga tidak memberikan blank check. Ada syarat: program harus bermanfaat untuk rakyat. Jika tidak, ulama punya hak dan kewajiban untuk bicara. Dalam konteks Ciamis, statement ini bisa menjadi landmark tentang hubungan antara institusi keagamaan dan pemerintah lokal. PONPES MIFTAHUL HUDA: WARISAN 92 TAHUN PENDIDIKAN ISLAM Ponpes Miftahul Huda sudah berdiri selama 92 tahun (sejak 1934 jika dihitung dari 2026). Ini bukan ponpes asal-asalan. Alm KH. Abdurahman Syadzily yang dirayakan Haol-nya adalah founder dan pimpinan legendaris yang membangun tradisi pesantren di Cihaurbeuti. Reuni Alumni Ke-21 menunjukkan bahwa alumni tersebar luas dan tetap terhubung dengan alma mater mereka. Ribuan alumni berarti ribuan orang yang dipengaruhi oleh pendidikan di ponpes ini — jadi dampak institusi ini terhadap masyarakat Cihaurbeuti dan sekitarnya sangat besar. KEAMANAN TERJAGA, KONDISI KONDUSIF Laporan menyebutkan keamanan berjalan aman lancar dan kondusif. Ini penting, mengingat kehadiran “simpatisan FPI” (Front Pembela Islam) yang dicatat dalam laporan resmi Polres. Polres Ciamis memastikan kegiatan keagamaan dapat berlangsung tanpa insiden, yang menunjukkan penanganan keamanan yang professional. PERTANYAAN YANG MENGGANTUNG ...