Rabu, 7 Oktober 2026 Redaksi Pedoman Media Siber Kontak
#Topik: Pilkades 2026 Kekeringan Karhutla Stunting Miras Ilegal

Pamarican Garap Pemuda Lewat Pramuka — LT II Kwarran Dibuka, 3 Hari Pembentukan Karakter Dimulai

Terbit: 15 September 2026 Penulis: Redaksi Fakta Hangat Kategori: Daerah

Kepramukaan Masih Relevan: Pembukaan Latihan Tingkat II Kwarran Pamarican Tunjukkan Komitmen Pemerintah Lokal Bentuk Generasi Muda Berkarakter

Selasa sore (15 September 2026), Lapangan Sepak Bola Desa Bantarsari, Kecamatan Pamarican, berubah menjadi pusat kegiatan kepramukaan. Di sini, Latihan Tingkat II (LT II) Kwarran Pamarican dibuka secara resmi. Acara yang dipimpin oleh Baehaki Efendi, Ketua Kwarran Pamarican, ini menandai dimulainya program pelatihan intensif selama 3 hari (15-17 September 2026) bagi ratusan pemuda pramuka se-Kecamatan Pamarican.

Kehadiran Ketua Kwarcab Kabupaten Ciamis, Camat Pamarican, Kapolsek, Danramil, dan para kepala sekolah menunjukkan ini bukan sekadar kegiatan organisasi pramuka biasa — ini adalah agenda strategis pemerintah lokal untuk pembentukan karakter pemuda.

LT II: Apa Itu dan Mengapa Penting?
Latihan Tingkat II dalam struktur kepramukaan adalah pelatihan lanjutan bagi anggota Gerakan Pramuka yang sudah melewati Latihan Tingkat I. LT II berfokus pada:

  1. Pendalaman nilai-nilai kepramukaan — Dari teori ke praktik; dari hafalan ke internalisasi nilai-nilai pancasila, kemanusiaan, dan kepedulian sosial
  2. Pengembangan keterampilan kepemimpinan — Peserta diajarkan cara memimpin kelompok, membuat keputusan, dan bertanggung jawab
  3. Pelatihan outdoor dan survival — Peserta belajar ketahanan fisik, adaptasi lingkungan, dan problem-solving di lapangan
  4. Pembentukan mental dan karakter — Melalui aktivitas bersama, peserta belajar disiplin, kerja sama, dan integritas

Dalam konteks era digital sekarang, di mana banyak pemuda lebih suka screen time daripada aktivitas nyata, LT II adalah “antidot” yang mengajarkan pemuda untuk kembali ke nilai-nilai fundamental: kerja keras, gotong royong, dan kepedulian sosial.

Komitmen Pemerintah Lokal: Sinyal Positif
Yang menarik adalah kehadiran pejabat pemerintah di pembukaan LT II ini bukan sekadar formalitas. Ketua Kwarcab, Camat, Kapolsek, dan Danramil hadir di lapangan — ini menunjukkan pemerintah lokal Pamarican serius dalam mendukung program kepramukaan.
Dukungan ini penting karena:

  1. Kepramukaan membutuhkan dana — Untuk logistik, perlengkapan, instruktur, akomodasi peserta di 3 hari pelatihan
  2. Kepramukaan membutuhkan ruang/lokasi — Lapangan Sepak Bola Desa Bantarsari disediakan untuk kegiatan ini
  3. Kepramukaan membutuhkan koordinasi — Dari sekolah-sekolah, dinas, dan berbagai institusi lokal
    Kehadiran pejabat menunjukkan komitmen untuk menyediakan semua ini.

Peserta: Dari Mana Mereka Datang?
Laporan menyebutkan “peserta LT II se-kec Pamarican” — artinya peserta berasal dari seluruh sekolah SD/MI, SMP/MTs di Kecamatan Pamarican. Ini menunjukkan LT II Kwarran Pamarican memiliki jangkauan yang luas.
Pertanyaan praktis: Berapa total peserta? Dari berapa sekolah? Apakah ada peserta dari luar Pamarican? Apa kriteria seleksi peserta?
Data konkret ini penting untuk mengukur apakah LT II ini melayani sebagian kecil pemuda (eksklusif) atau mayoritas pemuda Pamarican (inklusif).

Peran Para Kepala Sekolah: Endorsement Penting
Yang unik adalah kehadiran “para kepala sekolah SD/MI SMP/MTs” di acara pembukaan. Ini menunjukkan kepala sekolah secara aktif mendukung program kepramukaan.
Kenapa penting?

  1. Kepala sekolah adalah gatekeeper — Mereka yang memutuskan apakah kepramukaan diizinkan/didukung di sekolah mereka atau tidak
  2. Kepala sekolah bisa mengalokasikan waktu — Di tengah beban kurikulum nasional, kepala sekolah bisa memberikan waktu bagi kegiatan pramuka
  3. Kepala sekolah adalah role model — Kehadiran mereka menunjukkan kepada siswa bahwa pramuka adalah organisasi yang dihargai pemerintah dan institusi pendidikan

Tapi juga menimbulkan pertanyaan: Apakah endorsement kepala sekolah sudah diterjemahkan ke dukungan nyata di sekolah mereka? Misalnya:

  • Apakah ada jam khusus pramuka di jadwal sekolah?
  • Apakah ada alokasi dana untuk pramuka dari anggaran sekolah?
  • Apakah guru/pembina pramuka dihargai dengan insentif atau pengakuan?

3 Hari Intensif: Apakah Cukup Mengubah Karakter Pemuda?
LT II berlangsung selama 3 hari (15-17 September 2026). Ini adalah waktu yang relatif singkat untuk program pelatihan karakter yang komprehensif.
Dalam 3 hari, apa saja yang bisa dicapai?

Realistis:

  • Pemahaman awal tentang nilai-nilai kepramukaan
    Keakraban dan bonding antar peserta
  • Pengalaman outdoor yang mengesankan (beberapa kegiatan outdoor)
  • Motivasi dan semangat tinggi (setelah 3 hari pelatihan intensif)

Tidak realistis:

  • Transformasi karakter total (karakter dibentuk dalam jangka panjang, bukan 3 hari)
  • Penguasaan semua keterampilan kepramukaan
  • Perubahan perilaku permanen (tanpa follow-up dan praktik berkelanjutan)

Yang benar-benar penting adalah: LT II harus menjadi “momentum” yang dilanjutkan dengan aktivitas pramuka berkelanjutan di sekolah/komunitas masing-masing. Jika setelah LT II selesai, peserta kembali ke rutinitas tanpa aktivitas pramuka lanjutan, maka manfaat LT II akan hilang dengan cepat.

Pertanyaan Kritis: Berkelanjutan Atau Sekali-Sekali?
Laporan tidak menyebutkan:

  • Apakah ada program pasca-LT II? Bagaimana peserta akan terus mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di rumah/sekolah?
  • Apakah ada evaluasi? Bagaimana mengukur apakah LT II telah mencapai tujuannya?
  • Apakah ada rencana LT II tahun depan? Atau ini hanya event tahunan yang rutinitas tanpa strategi jangka panjang?
  • Bagaimana dengan pemuda yang tidak mendapat kesempatan LT II? Apakah ada program pembentukan karakter alternatif bagi mereka?

Ini adalah pertanyaan yang menentukan apakah LT II adalah program strategis pembentukan karakter pemuda Pamarican, atau sekadar aktivitas tahunan yang menyenangkan tapi dampaknya terbatas.

Konteks Lebih Luas: Kepramukaan di Era Digital
Di era sekarang, di mana:

  • Pemuda lebih banyak di depan screen (HP, laptop) daripada berinteraksi langsung
  • Nilai-nilai sosial erosi (individualis, pragmatis, kurang gotong royong)
  • Kasus bullying, depresi, dan bunuh diri di kalangan remaja meningkat

Kepramukaan menawarkan alternatif: Komunitas yang sehat, nilai-nilai luhur, aktivitas outdoor, dan bimbingan dari orang dewasa yang peduli.

Program LT II Kwarran Pamarican adalah upaya nyata untuk “menyelamatkan” pemuda dari gaya hidup yang tidak sehat. Tapi upaya ini baru efektif jika:

  • Melibatkan banyak pemuda — Bukan hanya yang sudah “beruntung” masuk pramuka
  • Berkelanjutan — Bukan hanya 3 hari, tapi program sepanjang tahun
  • Didukung orang tua — Tidak hanya sekolah dan pemerintah
  • Relevant dengan zaman — Nilai pramuka tetap, tapi metodenya harus adaptif dengan era digital

Kesimpulan: Pramuka Masih Relevan, Tapi Perlu Dikembangkan
Pembukaan LT II Kwarran Pamarican menunjukkan bahwa kepramukaan masih dilihat sebagai organisasi penting untuk pembentukan karakter pemuda. Dukungan pemerintah lokal (Camat, Kapolsek, Danramil) dan kepala sekolah adalah bukti nyata.
Tapi untuk menjadi program perubahan sosial yang signifikan, LT II dan kepramukaan secara keseluruhan perlu dikembangkan — dari aktivitas organasi menjadi program sistemik yang terintegrasi dengan pendidikan formal dan non-formal.

Pertanyaan untuk pemerintah Pamarican:

  • Berapa banyak pemuda Pamarican yang terlibat dalam kepramukaan? Apakah mayoritas atau hanya minoritas?
  • Bagaimana caranya membuat kepramukaan lebih menarik bagi pemuda digital? Perlu inovasi metode, bukan hanya tradisi lama.
  • Apakah ada program khusus untuk pemuda yang drop-out atau tidak tertarik pramuka? Program alternatif pembentukan karakter apa?
  • Bagaimana mengukur dampak LT II pada perubahan karakter dan perilaku peserta? Ada follow-up study atau evaluasi?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dengan baik, maka LT II Kwarran Pamarican bukan hanya kegiatan, tapi bagian dari strategi transformasi pemuda lokal.

Berita Terkait