45 Tahun Berdiri, Desa Raksabaya Cimaragas Gelar Syukuran Besar-besaran, Begini Suasananya
Desa Raksabaya, Cimaragas, Ciamis peringati Hari Jadi ke-45 dengan upacara syukuran, dihadiri Camat, Kapolsek, dan...
Kecamatan Pamarican Hadapi Tiga Krisis Sekaligus: Kekeringan, Kepala Desa Kosong, dan Ancaman Kebakaran Musiman
Senin pagi (14 September 2026), di ruang Aula Kecamatan Pamarican terselenggara sebuah Rapat Koordinasi Bulanan yang mengungkapkan realitas miris di balik stabilitas administratif: Kecamatan Pamarican sedang menghadapi krisis berlapis yang melibatkan infrastruktur, tata kelola pemerintahan, dan risiko bencana alam.
Pertemuan yang dihadiri oleh Camat, Kapolsek, kepala-kepala desa, pejabat kesehatan, pendidikan, dan berbagai organisasi masyarakat ini bukannya sekadar rutin koordinasi. Ini adalah sinyal bahwa ketiga masalah besar — kekeringan, Pilkades yang terancam, dan ancaman kebakaran — memerlukan respons koordinatif yang urgent.
Polisi Jadi Penyuplai Air Bersih: Siapa Yang Seharusnya Tanggungjawab?
Di antara berbagai topik yang dibahas, ada satu pernyataan dari Camat Pamarican yang seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak:
“Terimakasih kepada pihak Polsek Pamarican yang selama ini telah rutin menyalurkan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di desa Margajaya dan desa Pasirnagara.”
Ungkapan terima kasih ini terdengar biasa, tapi maknanya sangat dalam. Polisi — yang seharusnya fokus pada keamanan publik — kini menjadi pemasok air bersih untuk warga dua desa di Kecamatan Pamarican. Ini bukan tanggung jawab Kepolisian. Ini adalah tanggung jawab:
Pertanyaan yang menggantung: Mengapa air bersih di Desa Margajaya dan Pasirnagara tidak bisa disediakan oleh institusi yang seharusnya? Apakah:
Jika Polsek perlu “rutin” menyalurkan air bersih, itu berarti kekeringan bukanlah masalah sementara, tapi krisis berkelanjutan yang sistemik.
Pilkades Serentak Terancam: Satu Desa Masih Kosong Calon Kepala Desa
Dalam sambutannya, Kapolsek Pamarican IPTU Baehaki menyampaikan hal yang mengkhawatirkan tentang pelaksanaan Pilkades Serentak:
“Terkait tahapan pendaftaran calon kades, pihak desa peserta Pilkades agar mensosialisasikan kepada warga bahwa pendaftaran calon kades telah dibuka karena sampai dengan hari ini ada salah satu desa peserta Pilkades di wilayah kec Pamarican belum ada calon kades yang mendaftarkan diri.”
Pernyataan ini mengandung urgensitas yang sangat tinggi. Saat Rapat Koordinasi Bulanan diselenggarakan pada 14 September 2026, masih ada desa yang tidak memiliki calon kepala desa. Ini menunjukkan beberapa hal serius:
Pertanyaan mendasar: Apa yang menyebabkan satu desa di Kecamatan Pamarican tidak punya calon kepala desa? Apakah:
Pilkades Serentak adalah mekanisme demokratisasi lokal yang penting. Jika gagal di satu desa, ini bukan sekadar masalah administratif — ini adalah indikasi krisis kepercayaan terhadap institusi pemerintahan desa.
Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan: Musim Kemarau Sudah Di Depan Mata
Kapolsek juga menekankan:
“Berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan perkebunan agar semua pihak bahu membahu dalam penanganan kebakaran hutan maupun kebakaran lahan.”
Pernyataan ini diikuti dengan himbauan konkret:
“Diharapkan kepada peserta rakor yang hadir mensosialisasikan kepada masyarakat tidak ada yang membakar lahan dan apabila membakar sampah agar di tunggu atau dijaga sampai dengan api benar benar padam sehingga tidak merembet ke lahan lainya.”
Himbauan ini adalah bukti bahwa pemerintah sudah mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan menjelang musim kemarau. Tapi himbauan saja tidak cukup. Beberapa pertanyaan yang perlu jawaban:
Siapa Saja yang Hadir: Pertanyaan tentang Efektivitas Koordinasi
Daftar peserta yang hadir cukup komprehensif:
Ini adalah gambaran komprehensif dari stakeholder lokal. Tapi kehadiran mereka mengundang pertanyaan: Apakah koordinasi ini benar-benar menghasilkan action, atau hanya sekadar forum pelaporan status?
Jika UPTD PUPR hadir tapi masih ada desa yang kekeringan (sehingga Polsek harus supply air), itu berarti koordinasi tidak berjalan optimal. Ada disconnect antara perencanaan dan implementasi.
Yang Hilang dari Laporan: Data Konkret dan Solusi Terukur
Laporan ini tidak menyebutkan:
Ketiadaan data konkret menunjukkan laporan fokus pada aspek sosialisasi dan himbauan, bukan pada aksi nyata dan target terukur.
Pola Berulang: Koordinasi Bulanan Tanpa Solusi Permanen
Jika Rapat Koordinasi Bulanan terus diadakan dan masalahnya tetap sama (air bersih, desa tanpa kepala desa, ancaman kebakaran), itu berarti sistem koordinasi ini belum menghasilkan solusi yang sustainable.
Pola yang terjadi kemungkinan:
Kesimpulan: Tiga Krisis, Satu Rapat, Nol Solusi Nyata?
Rapat Koordinasi Bulanan Kecamatan Pamarican menunjukkan bahwa pemerintah sudah menyadari masalah. Kehadiran berbagai stakeholder membuktikan ada usaha koordinasi. Tapi kesadaran tanpa aksi nyata hanya menghasilkan lebih banyak pertemuan, bukan lebih banyak solusi.
Pertanyaan kritis yang harus dijawab:
Masyarakat Kecamatan Pamarican membutuhkan lebih dari sekadar koordinasi dan himbauan. Mereka membutuhkan solusi struktural untuk air bersih, kepemimpinan lokal yang kuat di semua desa, dan sistem pencegahan kebakaran yang komprehensif — bukan hanya bergantung pada kesadaran dan kemauan baik masyarakat.
Apakah Anda warga Kecamatan Pamarican? Bagaimana kondisi air bersih, kepemimpinan desa, dan risiko kebakaran di area Anda? Tulis di kolom komentar. Kami ingin mendengar pengalaman nyata dari lapangan.
Desa Raksabaya, Cimaragas, Ciamis peringati Hari Jadi ke-45 dengan upacara syukuran, dihadiri Camat, Kapolsek, dan...
CIAMIS — Kabar gembira bagi warga Kabupaten Ciamis yang ingin mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM)....
CIAMIS — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-81 tingkat Kodim 0613/Ciamis...